DARI ANGKLUNG HINGGA GITAR, PENDIDIKAN FISIKA DAN IPA UNIKAMA TERUS MENJAGA HARMONISASI SAINS DAN BUDAYA

FSTUnikama — Penggunaan alat musik, mulai dari alat musik tradisional seperti angklung hingga alat musik modern seperti gitar, tidak hanya melatih kepekaan seni. Akan tetapi juga menjadi sarana praktis memahami konsep dasar fisika. Di balik harmoni melodi yang dihasilkan kedua alat musik tersebut, terdapat prinsip getaran, resonansi, dan gelombang bunyi yang bekerja secara terukur.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Fisika Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Dr. Nurul Ain, M.Si., menyampaikan bahwa penggunaan budaya lokal dan alat musik tradisional dalam pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep sains dan fisika, ungkapnya disela sela pelaksanaan pembelajaran fisika berbasis budaya pada Jum’at 31 Juli 2026 di Unikama,

“Mahasiswa sebagai calon guru masa depan perlu membuat konsep abstrak. Seperti frekuensi dan ampitudo, sehingga menjadi jauh lebih mudah dipahami”, ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Unikama, Dr. Hena Dian Ayu, M.Si., menegaskan bahwa implementasi etnopedagogi dan digitalisasi bukan hanya bertujuan meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

“Kegiatan ini membuktikan bahwa belajar fisika tidak harus selalu dilakukan melalui hafalan rumus dan angka yang kaku. Pemahaman terbaik justru dapat lahir dari alunan nada, getaran bambu, dan harmoni budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi”, ungkapnya.

Scroll to Top